Mata dan Persoalan Melihat

Post a Comment
Mengapa Melihat Itu Penting?

Pertama, melihat merupakan tindakan yang sangat fundamental karena menyangkut kehidupan manusia pada umumnya. Bahkan ketika Anda mulai membaca artikel ini, Anda tentu saja menggunakan mata untuk melihat sebelum membaca. Kenyataan itu membenarkan penelitian yang menegaskan bahwa kurang lebih 80 persen informasi dari lingkungan sekitar yang sampai ke otak, berasal dari mata kita. Ini disebabkan karena korteks visual kita terletak di bagian belakang otak dan merupakan bagian utama yang menerima, mengintegrasikan, dan memproses informasi visual yang dikirimkan oleh retina mata. 

Artinya, jika Anda melihat seekor kecoak, Anda mungkin melompat karena takut. Begitu pun jika Anda diberi hadiah, Anda mungkin bereaksi untuk menunjukkan kekaguman, cinta, dan kasih sayang terhadap orang tersebut. Dengan kata lain, jika kita tidak memiliki mata, akan jauh lebih sulit bagi otak kita untuk memproses informasi secara otomatis dan menunjukkan respon emosi yang benar. Betapa pentingnya mata dalam kehidupan kita!

Semua itu menjadi semakin penting persis ketika ketika mengalami gangguan pada mata. 

Itu sama dengan asumsi kebanyakan orang yang mengatakan bahwa kesehatan dianggap penting justru ketika seseorang jatuh sakit. 

Namun benarkah demikian? 

Tentu saja tidak! Perspektif semacam itu mesti dilawan sekaligus direvisi. Disebut demikian karena cara pandang tersebut justru melanggengkan kecenderungan orang menormalisasi pengalaman sakit sebagai hal yang manusiawi, dan bukan karena keteledoran diri sendiri yang absen melakukan tindakan preventif atau pencegahan.

Khusus dalam konteks itulah, artikel ini ditulis untuk menunjukkan bahwa saking dekatnya pengalaman kita menggunakan mata untuk melihat, kebiasaan itu membuat kita cenderung melupakan betapa mata punya peran penting. Semua itu muncul pertama-tama, ketika suatu saat, jika kita teledor, penglihatan kita mulai terganggu. Lalu seluruh dunia seakan runtuh. Dan sejak saat itu, kita menyadari bahwa gangguan penglihatan ternyata bukan hanya memengaruhi kondisi mata, tetapi seluruh aspek kehidupan. 

Mungkin karena alasan yang sama ini pula, ada institusi negara yang menjadikan kesehatan mata sebagai salah satu syarat penting dalam proses perekrutan anggotanya diantaranya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Bertolak dari latar belakang semacam itulah, artikel ini ditulis untuk melayani dua tujuan utama yakni menjelaskan secara singkat peran dan fungsi mata, termasuk konsekuensi apa yang kita rasakan ketika mengalami gangguan penglihatan, dan bagaimana menemukan model intervensi medis yang tepat, termasuk mengembangkan pola hidup sehat.

Anatomi Fisiologi dan Kelainan Mata

Nah, sebelum masuk dalam pembahasan terkait penyakit mata, dijelaskan terlebihdahulu secara singkat anatomi mata yang meliputi kelopak mata (palpebra), selaput mata (conjungtiva), kornea, bilik mata depan, iris dan pupil, lensa, badan kaca (vitreus), retina dan saraf optik, serta makula sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Sumber gambar: Anatomi Mata

Lalu pada bagian mata manakah, ketika kita mengalami gangguan penglihatan? Alih-alih memberikan jawaban secara lengkap, tulisan ini fokus pada kelainan refraksi dan katarak sebagai objek analisis. Dua objek ini dipilih karena gangguan pada lensa mata yakni kelainan refraksi dan katarak merupakan gangguan mata terbanyak di Indonesia.

Kelainan Refraksi

Kelainan refraksi merupakan sebuah keadaan di mana bayangan tegas tidak terbentuk pada retina. Beberapa kawan dekat saya yang menderita gangguan ini cenderung mengidentifikasi objek secara kabur. Persis di situ, kelainan ini dapat dibagi ke dalam beberapa bagian antara lain:

Pertama, mata minus atau rabun jauh (myopia), sebagai gangguan refraksi yang terjadi karena bola mata terlalu besar sehingga cahaya yang masuk tidak difokuskan secara baik dan objek jauh tampak buram (National Lasik Center) . Pada umumnya, genetika sering menjadi faktor penyebab terbesar bagi myopia. Meskipun demikian, terdapat juga faktor lain yang berpengaruh yakni lingkungan, terutama keteledoran kita dalam menjaga kesehatan mata sehingga memperparah rabun jauh.

Kedua, rabun dekat (hipermetropia) merupakan gangguan refraksi yang terjadi karena gangguan pada bentuk kornea dan lensa mata yang tidak normal.

Ketiga, silinder (astigmatisma) merupakan kelainan refraksi di mana berkas sinar sejajar yang masuk ke dalam mata pada keadaan tanpa akomodasi dibiaskan lebih dari satu titik fokus. Penyebab silinder adalah kelainan bentuk kornea karena perubahan kelengkungan bentuk baik karena kongenital, trauma, luka atau tumor pada kornea (National Lasik Center).

Keempat, mata tua (presbiopi) merupakan hialngnya daya akomodasi pada penglihatan jarak dekat yang terjadi bersamaan dengan proses penuaan antara usia 44-46 tahun. Jika tidak ditangani secara tepat, presbiopi bisa menimbulkan beberapa komplikasi seperti sakit kepala dan mata tegang (National Lasik Center).

Sumber: National Lasik Center

Untuk mengatasi gangguan di atas, dibutuhkan intervensi medis, terutama ketika kondisinya semakin parah. Meski begitu, intervensi itu, melalui laser mata misalnya, dilakukan jika dilakukan diagnosis terlebihdahulu.

Pada umumnya, intervensi medis yang dianjurkan yakni Laser in Situ Keratomileusis atau Lasik. Lasik adalah prosedur laser untuk mengoreksi gangguan refraksi atau pembiasan cahaya (mata minus/rabun jauh, silinder, rabun dekat) sehingga terbebas dari alat bantu penglihatan seperti kacamata dan lensa kontak (NLC, 26 April 2021). Di Indonesia, pusat Laser Vision Correction (LVC) atau yang dikenal dengan sebutan Lasik tersebut berpusat di Surabaya. 

Tapi, mana metode laser yang cocok untuk mata Anda? 

Menjawabi pertanyaan itu, Anda perlu berkonsultasi terlebihdahulu dengan dokter spesialis mata dengan menghubungi nomor di bawah ini (klik gambar di bawah ini).

Katarak

Selain gangguan refraksi, gangguan pada lensa mata adalah katarak. Diketahui umum bahwa katarak merupakan penyebab kebutaan terbesar di Indonesia. 
Berdasarkan data terakhir prevalensi gangguan penglihatan melalui survei Rapid Assesment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan Kemenkes di 15 provinsi periode 2014-2016, ditemukan bahwa prevalensi kebutaan di atas usia 50 tahun di Indonesia berkisar antara 1,7 persen sampai 4,4.

Sumber: RAAB, Kemenkes, 2018, halaman 7.
Dari jumlah tersebut, katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi (81,2%). Angka ini menempatkan Indonesia menjadi negara dengan tingkat kebutaan tertinggi di Asia Tenggara. 
Tidak berhenti di situ. Gangguan penglihatan ini menyebabkan hilangnya produktivitas senilai Rp411 miliar per tahun (Kompas.com).

Diketahui, lensa mata, tempat katarak terbentuk, diposisikan di belakang bagian mata yang berwarna (iris). Lensa tersebut memfokuskan cahaya yang masuk ke mata, menghasilkan gambar yang jelas dan tajam di retina, dengan selaput peka cahaya di mata yang berfungsi seperti film di kamera. 

Namun sering bertambahnya usia, lensa mata bisa menjadi kurang fleksibel, kurang transparan, dan menjadi lebih tebal. Artinya, usia merupakan faktor penting dan menentukan, karena sebagian besar lensa mata terdiri atas air dan protein sehingga ketika usia bertambah, lensa semakin tebal, menggumpal, mengaburkan area kecil di dalam lensa, dan mengurangi cahaya yang masuk ke retina. Akibatnya, pandangan kita menjadi kabur dan tidak tajam (Kmu.id, 26 Juni 2022).

Selain usia atau penuaan, faktor genetik dapat menjadi penyebab lain. Itulah mengapa tidak heran jika katarak juga bisa dijumpai pada bayi (kogenital) atau pada usia muda. Artinya, dapat disimpulkan bahwa katarak dapat disebabkan oleh banyak hal diantaranya proses kogenital atau karena proses degenerative.

Berdasarkan penyebabnya, katarak dapat dibagi ke dalam beberapa bagian antara lain:

Pertama, Katarak Traumatik, yakni katarak yang disebabkan akibat adanya cedera pada bola mata. Hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya cedera di area mata antara lain: suhu panas, bahan kimia, sepihan batu, dan lain-lain. Katarak jenis ini dapat terjadi langsung setelah cedera atau bahkan terjadi atau muncul hingga bebebrapa tahun kemudian.

Kedua, Katarak Komplikata adalah jenis katarak yang terjadi akibat infeksi, pemakaian steroid dalam jangka waktu yang lama, dan bisa juga disebabkan oleh penyakit kencing manis.

Ketiga, Pseudoexfoliasi adalah jenis katarak yang disertai dengan adanya material yang menyebabkan kelainan seprti glaukoma dan lensa yang goyah. Selain karena faktor usia, katarak juga dapat disebabkan oleh penyakit lain yang bisa terjadi pada usia yang relatif muda sekaligus (Kmu.id, 27 Juni 2022).

Deteksi Dini dan Pengobatan Katarak

Menderita katarak tentu membawa banyak risiko baik secara biologis maupun sosial politik dan ekonomi. Apalagi, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Indonesia (2018) mencatat bahwa 34,47% penduduk yang menderita katarak mengalami kebutaan. Tidak heran, penyakit mata jenis ini patut diwaspadai karena menjadi penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia.

Cara mencegah katarak dapat dilakukan melalui beberapa hal antara lain: mengubah gaya hidup, mengunakan lensa konntak atau kacamata dengan resep yang tepat. Selain itu, pastikan bahwa Anda melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara berkala untuk melihat kondisi mata sehingga dokter bisa meresepkan alat bantu. Perubahan gaya hidup juga termasuk jika Anda mengidap katarak maka cobalah meningkatkan pencahayaan di rumah dengan menambah lampu atau mengganti lampu dengan yang lebih terang. Demikian juga, saat pergi ke luar rumah, pastikan penderita katarak mengenakan kacamata hitam dan topi bertepi lebar untuk mengurangi silau. Selain itu, hindari atau batasi mengemudi di malam hari karena gangguan penglihatan ini bisa berbahaya saat berkendara.

Sumber: Kmu.id
Namun, jika perubahan gaya hidup dan alat bantu melihat sudah tidak mempan mengatasi gangguan penglihatan ini, atau saat katarak semakin parah, dokter biasanya menyarankan operasi katarak yang umumnya dikenal dengan nama operasi katarak phacoemulsification

Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat lensa yang keruh, lalu menggantinya dengan lensa buatan yang bening. Orang yang sudah menjalani operasi katarak terkadang penglihatannya kembali kabur selang beberapa tahun kemudian. Kondisi ini disebabkan karena kapsul mata menjadi keruh. Tidak heran, dokter jamak merekomendasikan operasi pembukaan kapsul mata dengan laser untuk mengembalikan penglihatan, agar kembali jernih. (Kompas.com, 31 Oktober 2021). 

Soal biaya, Anda tidak perlu khawatir. Ada ada banyak program operasi katarak gratis baik yang diinisiasi oleh negara maupun swasta. Beberapa institusi swasta yang saya ketahui misalnya dari Klinik Mata KMU (Kmu.id, 8 Desember 2021) dan beberapa industri yang bergerak di bidang fast-moving consumer goods (FMCG). Dari negara, ada juga melalui skema pembiyaan BPJS Kesehatan. Namun, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa operasi katarak bukanlah hal yang menakutkan. Bahkan prosesnya tak prosesnya tak lagi membutuhkan waktu yang lama.

Atau jika Anda masih bingung dengan dorongan preskriptif tulisan ini, dan jika timbul beberapa gejala katarak di atas yang semakin menganggu atau semakin memburuk sehingga menyebabkan rasa nyeri pada mata atau kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Penegasan Ulang

Sebelum menutup tulisan ini, sekali lagi saya menegaskan kembali pentingnya topik ini dengan beberapa pertanyaan reflektif yang perlu disikapi baik oleh negara maupun warga negara secara umum yakni: bagaimana jika gangguan penglihatan ini menyerang generasi muda khususnya yang berada dalam rentang usia produktif? 

Bagaimana mereka dapat mengakses pekerjaan yang layak jika gangguan pada penglihatan tidak segera diantisipasi? 

Selanjutnya, agak filosofis, bagaimana seseorang memahami dirinya dan kehidupan yang ia jalani jika ia kehilangan penglihatannya? 

Pertanyaan terakhir ini akan mengantar kita pada isu lain yang saling terhubung yakni kesehatan mental. Disebut demikian karena gangguan penglihatan akan mengguncangg seluruh ketahanan diri seseorang, memperparah fisiknya yang ringkih, dan mudah terserang penyakit lain. 

Singkatnya, pertanyaan-pertanyaan di atas mau menunjukkan bahwa antara kesehatan, ekonomi, dan politik, ada relasi saling terhubung, saling memengaruhi. Akhirnya, jika cinta, putus asa, dan harapan selalu datang dari hati dengan kesan awal yang ditangkap oleh mata, cukup sulit meyakinkan seseorang tentang pentingnya nilai tertentu jika ia tak mampu melihat. Atau mengutip kata-kata Kitab Suci, iman tanpa perbuatan adalah mati. Tapi bagaimana orang bisa beriman jika ia tak mampu melihat perbuatan-perbuatan nyata yang menumbuhkan iman itu?
Yohanes W Hayon
Malas makan, rakus membaca, minder bertemu perempuan cantik, dan ingin menjadi dongeng

Baca juga

Post a Comment

Arsip Juara Kompetisi